SATU
jika nanti aku terdampar di dadamu, ijinkan detak jantungmu dendangkan syair dari puisi yang pernah aku tulis...
DUA
dalam kesempatan yang sekian , aku bersimpuh
kembali dihadapanmu, setengah berbisik dalam gemetar cengkraman aku
mengadu: "perlukah aku menangis untuk cinta..?"
TIGA
aku tahu siapa yang akan datang di mimipiku
nanti malam, karena aroma rerumputan dan helai rambutmu yang
diterbangkan angin, menulis pesan di titian kamarku, "stt.. kau tunggu
saja dulu diberanda, aku belum sepakat dengan skenario mimipinya, kita
harus bicara banyak"
EMPAT
kau memintaku kembali, namun kau kaburkan arah
ke arahmu.. kiranya kau sengaja menjebakku dengan deretan kenangan yang
menyakitkan... sedang kabut di depanku semakin tebal.
LIMA
penaku menjadi tumpul, dan kata-kataku kehilangan ruh-nya, saat puisi yang kusajikan kau tumpah tanpa kau cecap lebih dulu...
ENAM
sehelai surat cinta aku selipkan di mimpimu, nanti malam coba kau singgah kedalamnya: "aku akan jelaskan semua"
TUJUH
malam-malam yang kau janjikan untukku,
ternyata hanya menyiskan kesepian... dik, kau sengaja kau mejebakku di
sana, mungkin dendammu tak menyiskan maaf meski setitik api....
mencoba terus meluangkan waktu untuk menulis, memahami dan menikmati sastra... dengan caranya sendiri.
Friday, March 22, 2013
Wednesday, January 9, 2013
Dendang Januari
(antologi syair di awal tahun, dari dinding fb
https://www.facebook.com/ence.sajidin )
Airmata
"Kang, telah aku habiskan kata-kata untuk menulis puisi tentangmu, dan tampaknya puisi ini tak akan pernah aku sajikan.. maaf yah kang..", lirihmu dengan getar bibir menahan pedih : "Kang, kini ijinkan saja airmataku yang bercerita tentang itu semua...."
Duh,
yah, kamu yang membiarkan kesetianku berlumut cemburu, sedang sinar matamu tak lagi menghangatkannya... mungkin musim ini tak berpihak pada kita
Rakaat terakhir
kalau bukan atas namamu mungkin bibirku tak akan bertakbir dalam khusu cinta: "dik di rakaat berapa kau akan meninggalkan salam untukku"
Cemas
hanya satu kekhawatiranku di bulan pertama tahun ini: pudarnya ingatanmu tentang aku... itu saja
namun kau sebut aku pembohong
oleh Ence Ali Sajidin pada 29 November 2012 pukul 17:41 ·
segenggam
rindu pernah aku taburkan di pusara kenangan kita, tadinya aku berharap
wanginya tak sampai ke hadapanmu, namun kini kau datang, membawa
tangkai bunga yang luruh digenggamanmu, kau mencerca tak kira, "aku
pikir kau tak akan menziarahiku lagi, dulu kau ikrar tak sudi dendangkan
doa-doa kasmaran kita, namun aku tahu kini..." sejenak kau usap muka, "
kenangan itu tak benar kau bunuh, kau masih tiupkan ruh pada
jasadnya".
aku terpojok, keringat dingin menggerimis..
"maumu apa hey lelaki penjerat dahaga?"tanyamu, "bukankah sudah cukup kita menebar dan menunggu benih kita berkecambah, berdaun dan berbuah, lalu kau dengan congkak menuding rimbunnya pohon itu bukan tempat yang nyaman buat kau bertuduh"
"maumu apa hey lelaki pemetik resah?" lanjutmu, "kau coba asingkan aku dengan dalih air tak surut kala purnama, bajingan kau!! kau buat perumpamaan yang tak aku mengerti, dan betapa dungunya aku mengangguk dalam keterpaksaan".
mulutku terbuka, namun cepat kau bercakap,
"maumu apa? aku kembali pangkas kenangan menyakitkan itu. bedebah, tolong jangan pernah kau berdoa untuk itu!_"
katup mulutku, kau kunci.
"Kau lelaki pembohong...cukup"
aku terpojok, keringat dingin menggerimis..
"maumu apa hey lelaki penjerat dahaga?"tanyamu, "bukankah sudah cukup kita menebar dan menunggu benih kita berkecambah, berdaun dan berbuah, lalu kau dengan congkak menuding rimbunnya pohon itu bukan tempat yang nyaman buat kau bertuduh"
"maumu apa hey lelaki pemetik resah?" lanjutmu, "kau coba asingkan aku dengan dalih air tak surut kala purnama, bajingan kau!! kau buat perumpamaan yang tak aku mengerti, dan betapa dungunya aku mengangguk dalam keterpaksaan".
mulutku terbuka, namun cepat kau bercakap,
"maumu apa? aku kembali pangkas kenangan menyakitkan itu. bedebah, tolong jangan pernah kau berdoa untuk itu!_"
katup mulutku, kau kunci.
"Kau lelaki pembohong...cukup"
Subscribe to:
Posts (Atom)
